Jadikan Inspirasimu

Jumat, 10 Oktober 2014

Diksi dalam Bahasa Indonesia

DIKSI dalam BAHASA INDONESIA

   Ø  Pengertian Diksi
Diksi atau pilihan kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pusat bahasa Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Berikut pengertian diksi menurut beberapa ahli :
     1.      Widyamartaya (1990: 45), diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan              secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya, dan                  kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki oleh                sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca.
     2.   Enre (1988: 102), diksi adalah  pilihan kata dan penggunaan kata secara tepat untuk mewakili             pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat.
     3.  Mustakim (1994: 41) membedakan antara istilah pemilihan kata dan pilihan kata. Pemilihan kata         adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkap gagasan secara tepat, sedangkan     pilihan kata adalah hasil proses atau tindakan tersebut.

Diksi atau pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna, kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau pendengar. Agar dapat menghasilkan pengungkapan yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat-syarat, yaitu:
•  Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.
• Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.


   Ø  Fungsi dari Diksi
Fungsi dari diksi antara lain :
§   Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
§   Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
§   Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
§   Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

   Ø  Jenis Diksi
Ketepatan pemilihan kata akan berpengaruh dalam pikiran pembaca tentang isi karya sastra, jenis diksi menurut Keraf, (2008: 89-108) adalah sebagai berikut.

a)    Denotasi adalah konsep dasar yang didukung oleh suatu kata (makna itu menunjuk kepada konsep, referen atau ide). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya. Berikut ini contoh denotasi yang diambil dari salah satu kutipan pada rubrik Padhalangan di media massa.

Dasamuka ora bisa bangga, awake kaya didhadhung kenceng sing saya suwe saya njiret awake.
‘Dasamuka tidak berdaya, raganya seperti diikat kencang yang semakin lama semakin menjerat’.

b)      Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan sebenarnya. Berikut ini contoh konotasi yang diambil dari salah satu kutipan pada rubrik Padhalangan di media massa.

Ngakua mumpung durung tak potheng-potheng bathangmu.
‘Mengakulah sebelum badanmu aku potong-potong’.

c)     Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata abstrak sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan panca indra manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetapan, kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang bersifat teknis dan khusus. Berikut ini contoh kata abstrak.

Lurusing ati lan murnining budi iku rerenggan urip kang sayekti.
‘Lurusnya hati dan murninya budi adalah perhiasan hidup yang sesungguhnya’.

d)    Kata konkrit adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan oleh satu atau lebih dari pancaindra. Kata-kata konkrit menunjuk kepada barang yang aktual dan spesifik dalam pengalaman. Kata konkrit digunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup dalam pikiran pembaca melebihi kata-kata yang lain. Berikut ini contoh kata konkrit yang diambil dari salah satu kutipan geguritan yang bertema pengalaman pada media massa.

Obah ingering jinantra donya, datan siwah lan rodha kreta.
‘Berubahnya roda dunia tidak berbeda dengan roda kereta’.

e)   Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas. Kata-kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan. Berikut ini contoh kata umum.

Wit-witan sing maune ngrembuyung kebak gegodhongan saiki garing, amarga diobong dening manungsa.
‘Pohon -pohon yang tadinya rindang, berdaun lebat, sekarang kering, karena dibakar oleh manusia’.

f)   Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus. Berikut ini contoh kata khusus.

Kabeh padha ngayunake donga nyenyuwun supaya Ridwan tinampa Gusti Allah lan di papanake ana papan sing murwat.
‘Semua memanjatkan do’a supaya Ridwan diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang pantas’.

g)     Kata ilmiah adalah kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah.

h)   Kata populer adalah kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan  masyarakat, baik oleh kaum terpelajar atau oleh orang kebanyakan. Berikut ini contoh kata-kata populer.

Ana ing donya iki sing nduweni kuwasa mung Gusti Allah
‘Di dunia ini yang mempunyai kekuasaan hanyalah Allah’

i)     Jargon adalah kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya. Berikut ini contoh kata-kata jargon yang diambil dari salah satu kutipan artikel pada media massa bertopik kesehatan.

Teh mujudake sumber alami kafein, teofilin lan zat anti-oksida sing jenenge katekin, kanthi kadar lemak, karbohidrat utawa protein meh nol persen.
‘Teh menunjukkan sumber alami kafein, teofilin dan zat anti-oksida yang bernama katekin, dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein hampir nol persen.’

j)     Kata slang adalah kata-kata non standard yang informal, yang disusun secara khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan, kata slang juga merupakan kata-kata yang tinggi atau murni. Berikut ini contoh kata slang.

Jebule Doni kuwi isih gaptek babagan komputer
‘Ternyata Doni masih gaptek tentang komputer’.

k)   Kata asing ialah unsur-unsur yang berasal dari bahasa asing yang masih dipertahankan bentuk aslinya karena belum menyatu dengan bahasa aslinya. Berikut ini contoh kata asing.

Wektu iki aku pacaran karo bocah sing miturutku alim, nganggo busana muslim lan yen rembugan alus, ora yak-yakan.
‘Sekarang saya berpacaran dengan anak yang menurutku alim, memakai busana muslim, dan jika berkata halus, tidak senang bermain’.

l)     Kata serapan adalah kata dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan wujud atau struktur bahasa Indonesia. Berikut ini contoh kata serapan.
Kembang peparinge wong tuwa sing ginadhang ngrenggani kedhatoning kalbu.
‘Bunga pemberian orang tua yang diharapkan menghiasi kerajaan hati’.

Daftar Pustaka :




Sabtu, 04 Oktober 2014

Ragam Bahasa Indonesia

RAGAM BAHASA

      1.      Pengertian ragam bahasa
            a.       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ragam bahasa diartikan variasi bahasa              menurut pemakaiannya, topik yang dibicarakan hubungan pembicara dan teman bicara, dan medium  pembicaraannya. (2005:920).
        b.     Menurut Bachman (1990), ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda  menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.
        c.       Menurut Dendy Sugono (1999), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
      
      Jadi, dapat dikatakan bahwa ragam bahasa adalah variasi dalam pemakaian bahasa berdasarkan         situasi yang dihadapi, permasalahan yang hendak disampaikan, latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju, dan sarana bahasa yang digunakan.

      2.      Jenis-jenis ragam bahasa
1.      Ragam Bahasa Ilmiah
Ragam bahasa ilmiah adalah  karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

Jenis karangan ilmiah :
·      Makalah          : Karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di                         lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa                          Arab yang berarti karangan).
·      Kertas kerja      : Makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam                                      lokakarya.
·    Skripsi             : Karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang                                lain.
·     Tesis                : Karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
·    Disertasi          : Karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis                          berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci. 
Ciri-ciri karangan ilmiah : 
1.                   Sistematis
2.                  Objektif
3.                  Cermat, tepat dan benar
4.                  Tidak persuasif
5.                   Tidak argumentatif
6.                  Tidak emotif 
7.                  Tidak mengejar keuntungan sendiri
8.                  Tidak melebih-lebihkan sesuatu. 

2.      Ragam Bahasa Non Ilmiah

Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan lainnya. Bentuk karangan non ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, roman, anekdot, hikayat, cerber, puisi dan naskah drama.

Ciri-ciri karangan non lmiah :
·                      Ditulis berdasarkan fakta pribadi
·                      Fakta yang disimpulkan subjektif
·                      Gaya bahasa konotatif dan popular
·                      Tidak memuat hipotesis
·                      Penyajian dibarengi dengan sejarah
·                      Bersifat imajinatif
·                      Situasi didramatisir
·                      Bersifat persuasive

3.      Ragam  Bahasa Semi Ilmiah

Semi ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya pun tidak semi formal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non ilmiah. Maksud dari karangan non ilmiah tersebut ialah karena jenis semi ilmiah masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen. Karakteristiknya adalah berada diantara ilmiah. Bentuk karangan semi ilmiah yaitu artikel, editorial, opini, tips, reportase dan resensi buku. Resensi buku adalah bentuk konbinasi antara uraian, ringkasan dan kritik objektif terhadap sebuah buku. Klasifikasi pembuatan resensi buku ilmiah yaitu ringkasan, deskripsi, kritik, apresiasi, dan praduga.

Ciri-ciri karangan semi ilmiah :        
·                      Ditulis berdasarkan fakta pribadi
·                     Fakta yang disimpulkan subjektif
·                     Gaya bahasa formal dan popular
·                     Mementingkan diri penulis
·                     Melebih-lebihkan sesuatu
·                     Usulan-usulan bersifat argumentatif
·                     Bersifat persuasive

Bila dilihat ragam bahasa berdasarkan media atau sarana, yaitu
      1.      Ragam bahasa lisan 
Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan,  ekspresi wajah, intonasi, dan gerakan tangan yang bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Ragam lisan dapat kita temui, misalnya pada saat seseorang berpidato, dalam situasi perkuliahan, ceramah, dalam percakapan antar teman, dan lainnya. 
Ciri-ciri Ragam Bahasa Lisan:
1.      Memerlukan kehadiran orang lain
2.      Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap
3.      Terikat ruang dan waktu
4.      Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara

Kelebihan ragam bahasa lisan:
1.        Bahasa lisan merupakan bahasa yang primer
2.        Dapat disesuaikan dengan situasi
3.        Bahasa lisan lebih ekspresi
Kelemahan ragam bahasa lisan:
1.        Ragam lisan depengaruhi oleh waktu dan kondisi
2.        Apa yang dibicarakan belum tentu dapat dimengerti oleh pendengarnya

      2.      Ragam bahasa tulis 
Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang  dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual atau bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata.
Ciri-ciri Ragam bahasa tulisan :
1.      Tidak memerlukan kehadiran orang lain
2.      Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap
3.      Tidak terikat ruang dan waktu
4.      Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan
Kelebihan ragam bahasa tulis :
1.         Adanya penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide
2.         Dapat digunakan untuk menyampaikan informasi
3.         Tidak terkait dengan kondisi dan waktu seperti ragam bahasa lisan.
Kelemahan ragam bahasa tulis :
1.        Sering terjadi salah pengertian
2.        Perlu pemahaman bagi yang menerima
3.        Tidak dapat bertemu secara langsung


Daftar Pustaka :


Minggu, 28 September 2014

Fungsi Bahasa secara Umum dan Peristiwa yang Berkaitan dengan Perkembangan Bahasa

FUNGSI BAHASA SECARA UMUM

           1.      Bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri
Sebagai alat ekspresi diri, bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang, baik berbentuk perasaan, pikiran, gagasan, dan keinginan yang dimilikinya. Begitu juga digunakan untuk menyatakan dan memperkenalkan keberadaan diri seseorang kepada orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.
                                             
           2.      Bahasa sebagai alat komunikasi
Melalui Bahasa, manusia dapat berhubungan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya, terutama sesama manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat memikirkan, mengelola dan memberdayakan segala potensi untuk kepentingan kehidupan umat manusia menuju kesejahteraan adil dan makmur. Manusia dalam berkomunikasi tentu harus memperhatikan dan menerapkan berbagai etika sehingga terwujud masyarakat yang madani selamat dunia dan akhirat. Bahasa sebagai alat komunikasi berpotensi untuk dijadikan sebagai sarana untuk mencapai suatu keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia, baik sebagai insan akademis maupun sebagai warga masyarakat. Penggunaan bahasa yang tepat menjadikan seseorang dalam memperlancar segala urusan. Melalui bahasa yang baik, maka lawan komunikasi dapat memberikan respon yang positif. Akhirnya, dapat dipahami apa maksud dan tujuannya.
3.      Bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial.
      Sebagai alat integrasi, bahasa memungkinkan setiap penuturnya merasa diri dengan kelompok sosial masyarakat yang menggunakan bahasa yang sama, sehingga para anggota dari kelompok sosial tersebut dapat melakukan kerja sama dan membentuk masyarakat bahasa yang sama. Sementara sebagai media adaptasi sosial, bahasa memungkinkan seseorang menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan anggota masyarakat lain yang menggunakan bahasa yang sama.
Pada saat beradaptasi dilingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Seseorang akan menggunakan bahasa yang non standar pada saat berbicara dengan teman- teman dan menggunakan bahasa standar pada saat berbicara dengan orang tua atau yang dihormati. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa memudahkan seseorang untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa.

4.      Bahasa sebagai alat kontrol sosial
Fungsi keempat dari bahasa adalah sebagai media kontrol sosial. Sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas sosial, merencanakan berbagai kegiatan, dan mengarahkannya ke dalam suatu tujuan yang diinginkan. Selain itu, dalam fungsinya sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat juga dipakai untuk menganalisis dan mengevaluasi berbagai aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Sebab dengan bahasa seseorang dapat memberikan perintah atau instruksi kepada seseorang lainnya untuk melakukan suatu aktivitas atau melarangnya melakukan aktivitas tersebut. Dengan kata lain, dalam fungsinya sebagai media kontrol sosial, bahasa dapat dimanfaatkan untuk mengontrol segala aktivitas yang dilakukan manusia.

PERISTIWA-PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN BAHASA
Sejarah

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.

Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.

Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.


Bahasa Indonesia

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu/ Indonesia

Perinciannya sebagai berikut:
1.      Pada tahun 1901 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan ia dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
2.      Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 ia diubah menjadi Balai Pustaka. Balai itu menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
3.      Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal itulah para pemuda pilihan mamancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia.
4.      Pada tahun 1933 secara resmi berdirilah sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan.
5.      Pada tarikh 25-28 Juni 1938 dilangsungkanlah Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
6.      Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar RI 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
7.      Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
8.      Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tarikh 28 Oktober s.d. 2 November 1954 juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

Tanggapan :
Setelah membaca sejarah bahasa Indonesia sampai pada peristiwa-peristiwa penting mengenai bahasa Indonesia, dapat dilihat bahwa tidaklah mudah menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Banyak proses yang dilalui untuk sampai pada titik tersebut.
Untuk masa sekarang, dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sangatlah sulit diaplikasikan. Mulai dari kalangan muda sampai kalangan tua hanya segelintir orang yang benar-benar mengerti serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, dapat dilihat pula dari siswa SMP atau SMA yang mengikuti Ujian Nasional (UN) dalam memperoleh nilai 100 untuk  bahasa Indonesia sangatlah jarang. Padahal bahasa Indonesia kita pakai sehari-hari. Inilah mengapa kita sebagai generasi muda mulai merubah kebiasaan yang sebelumnya memakai bahasa pergaulan yang jauh dari bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Untuk ke depannya, diharapkan bahasa Indonesia lebih dikembangkan dan diperkenalkan ke kanca internasional. Melalui bahasa Indonesia pula budaya asli Indonesia dapat dikenal luas oleh dunia.


Daftar Pustaka :