Jadikan Inspirasimu

Senin, 30 Juni 2014

Bekerjasama dalam team (kelompok) atau Teamwork

Bekerjasama dalam team (kelompok) atau teamwork

Ø  PENGERTIAN KELOMPOK
Berikut pengertian kelompok menurut beberapa ahli¹, yaitu :
a.          Hornby, A.S (1973: 441) berpendapat bahwa kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang berkumpul atau ditempatkan secara bersama-sama atau secara alamiah berkumpul. (A number of persons or things gathered, or naturally associated).

b.       Webster (1989: 425) ,mengatakan bahwa kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang bergabung secara erat dan menganggap dirinya sebagai suatu kesatuan.

c.            (Sherif: 1962), berpendapat Kelompok adalah unit sosial yang terdiri dari sejumlah individu yang mempunyai hubungan saling ketergantungan satu sama lain sesuai dengan status dan perannya secara tertulis atau tidak mereka telah mengadakan norma yang mengatur tingkah laku anggota kelompokny

d.         slamet Santosa (1992: 8), “Kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”.

Jadi, bila dilihat dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki kepentingan yang sama sehingga menjadi satu kesatuan dan memiliki hubungan ketergantungan satu sama lain.

Ø  KARAKTERISTIK KELOMPOK

Karakteristik atau ciri suatu Kelompok menurut Shaw (1979: 6-10) ada 6, yaitu:

1)     Persepsi dan kognisi anggota kelompok

2)     Motivasi dan kebutuhan kepuasan (need satisfaction)

3)     Tujuan kelompok (Group Goals)

4)     Organisasi Kelompok

5)     Ada ketergantungan antara anggota kelompok

6)     Interaksi

Selain disebutkan di atas karakteristik kelompok lainnya adalah 1). Adanya interaksi, 2) adanya struktur, 3). Kebersamaan, 4). Adanya tujuan, 5) ada suasana kelompok, 6) dan adanya dinamika interdependensi.

Ø  TAHAPAN PEMBENTUKAN KELOMPOK
 Menurut teori FIRO-B ada 3 proses pembentukan kelompok ², yaitu :
1.    Tahap inklusi adalah tahap yang paling awal karena individu baru pertama kali bergabung dengan individu lain dalam kelompok. Identitas pribadi masih dominn dan hasrat untuk bergabung dengan kelompok berkonflik dengan hasrat untuk mempertahankan identitas diri. Ada perasaan tidak diterima oleh kelompok, merasa bukan senasib atau sejenis dengan individu-individu lain dalam kelompok.
2.   Tahap kontrol, karena kelompok itu mulai mengatur diri dengan tata tertib, kesepakatan tentang peraturan, tujuan kelompok, pembagian tugas antaranggota kelompok dan sebagainya.
3.   Tahap afeksi, karena para anggota sudah saling mengenal satu sama lain, timbul perasaan saling suka atau saling tidak suka antaranggota sehingga akhirnya terbentuk subkelompok, geng atau klik yang merupakan bagian dari kelompok yang besar.

Selain itu menurut robbins dalam bukunya yang menggambarkan proses terbentuknya kelompok ³, yaitu :
1.  Forming. Tahap ini adalah fase pembentukan dimana semua anggota kelompok penuh keceriaan dan hubungan yang terjadi di antara mereka harmonis.
2.    Storming. Pada tahap ini mulailah terjadi pertengkaran dan perselisihan kerana berbagai sebab.
3.  Norming. Tahap dimana anggota kelompok mulai cooling down dan menyepakati norma dan aturan main yang akan mereka jadikan pegangan sehingga semua perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan mudah dan semua kepentingan anggota dapat dipenuhi.
4. Performing. Pada fase ini, kelompok telah berhasil menyelesaikan fase norming dan mulailah mereka bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
Tetapi ada kelompok yang tidak melewati fase storming dan fase norming (yang sudah diselesaikan pada saat pembentukan kelompok) sehingga mereka langsung meloncat ke tahap performing. Dapat dilihat dari tahap-tahap di atas yang merupakan proses pembentukan kelompok.

Ø  KEKUATAN TEAMWORK
Dengan bekerja secara kelompok atau teamwok banyak yang dapat diperoleh mulai dari diri individu itu sendiri sampai pada tujuan yang dicapai. Berikut kelebihan teamwork, yaitu :
1.    Dalam tim mungkin untuk mencapai sinergi maksimal melebihi kapasitas kerja sendiri.
2. Anggota tim sering mengevaluasi pemikiran satu sama lain, sehingga tim dapat menghindari kesalahan besar.
3.    Saling mendukung dalam membuat keputusan tim.
4.    Tim dapat melakukan kontribusi dan perbaikan terus-menerus.
5. Tim menciptakan lingkungan kerja yang mendorong orang untuk menjadi diri termotivasi, diberdayakan dan puas dengan pekerjaan mereka.

Ø  IMPLIKASI MANAJERIAL
Bekerja sama dalam team (kelompok) atau teamwork sangat penting dalam organisasi karena akan menghasilkan kinerja yang lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan secara individual. Upaya-upaya individual mereka menghasilkan suatu tingkat kinerja yang lebih besar daripada jumlah masukan individual tersebut. Pelaksanaan teamwork secara efektif akan berdampak pada kesuksesan tim dalam mencapa tujuan yang diinginkan.

 Daftar Pustaka :
2.   Sarlito Wirawan sarwono-cet. 3, 2005, Psikologi Sosial-Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan, Jakarta, Balai Pustaka
3.      DR. ACHMAD S. RUKY, Sukses sebagai Manajer Profesional tanpa Gelar MM atau MBA (diakses melalui internet tgl 30/06/2014, pukul 14.23)




Minggu, 11 Mei 2014

Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

   Ø  DEFINISI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan dalam kepemimpinan adalah penting bagi kelangsungan suatu organisasi. Semakin tinggi posisi pemimpin dalam kepemimpinan organisasi maka tugas utamanya semakin banyak berkaitan dengan pengambilan keputusan. Seorang pemimpin haruslah memiliki dasar-dasar yang pasti dalam  pengambilan keputusan. Berikut definisi-definisi pengambilan keputusan :

     1.      Shull dalam dalam Ety Rochaety (2008:151) mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah proses   kesadaran manusia terhadap fenomena individual maupun sosial berdasarkan kejadian faktual dan nilai pemikiran yang mencakup aktivitas perilaku pemilihan satu atau beberapa alternatif sebagai jalan keluar       untuk memecahkan masalah yang dihadapi. ¹
     2.      Menurut George R. Terry dalam Ety Rochaety (2008: 151), pengambilan keputusan adaah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.¹
       3.      Menurut Lipman (1985:81) pengambilan keputusan adalah sebuah proses untuk memecahkan masalah melalui sebuah sistem yang dirancang melalui pilihan dari beberapa alternatif jawaban yang sudah disusun berdasarkan sistem keluaran (output).²

Jadi, pengambilan keputusan adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk mempertahankan kelangsungan organisasi berkaitan dengan memecahkan permasalahan yang timbul di dalamnya melalui pencarian jawaban yang paling tepat mengenai masalah tersebut.

   Ø  DASAR-DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Menurut George Terry (dalam Hasan, 2002:12-13) dasar-dasar pengambilan
keputusan adalah :
a) Intuisi. Keputusan berdasarkan perasaan subjektif dari pengambil keputusan. Sehingga sangat dipengaruhi oleh sugesti dan faktor kejiwaan, disisi lain waktu dalam pengambilan keputusan relatif lebih pendek.
b) Rasional. Pengambilan keputusan bersifat objektif, logis, transparan dan konsisten karena berhubungan dengan tingkat pengetahuan seseorang.
     Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
·         Kejelasan masalah.
·         Orientasi tujuan : kesatuan tujuan yang ingin dicapai.
·         Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
·         Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria.
·         Hasi maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.
c) Fakta. Pengambilan keputusan yang didasarkan pada kenyataan objektif yang terjadi sehingga keputusan yang dimabil dapat lebih sehat, solid dan baik.
d) Wewenang. Pengambilan keputusan ini didasarkan pada wewenang dari manajer yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari bawahannya. Keputusan dapat bertahan lama namun menimbulkan rutinitas dan sering melewatkan permasalahan yang seharusnya dipecahkan
e) Pengalaman. Pengambilan keputusan yang didasarkan pada pengalaman seorang manajer. Sehingga dapat memperkirakan baik buruknya keputusan.
Dilihat dari dasar-dasar pengambilan keputusan di atas bahwa pemimpin harus memikirkan banyak pertimbangan sehingga keputusan yang diambil tepat.

   Ø  JENIS-JENIS KEPUTUSAN ORGANISASI

Dilihat berdasarkan masalah yang dihadapi, yaitu :
      a.       Keputusan yang diprogramkan (program decision)
Adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada problem yang diketahui secara baik (well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas. Informasi juga tersedia secara mencukupi untuk digunakan dalam mengambil keputusan. Demikian pula informasinya dapat dinilai relevansinya untuk mengambil keputusan. Fakta-fakta dan angka-angka serta data diolah untuk memberikan informasi yang bermakna sehingga keputusan bisa diprogramkan.

      b.      Keputusan yang tidak diprogramkan (non-programmed decision)
Adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahui secara jelas (ill-structured problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.

   Ø  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut: 

     1.   Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan           dalam pengambilan keputusan.
     2.    Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
     3.    Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain.
     4.    Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan.
    5.      Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah             menjadi tindakan fisik.
    6.      Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama.
    7.      Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik.
    8.    Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul.
    9.      Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
          Faktor-faktor inilah yang sedikit banyaknya mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan.

   Ø  IMPLIKASI MANAJERIAL
Pengambilan keputusan adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk mempertahankan kelangsungan organisasi berkaitan dengan memecahkan permasalahan yang timbul di dalamnya melalui pencarian jawaban yang paling tepat mengenai masalah tersebut. Dalam kepemimpinan pengambilan keputusan sangatlah penting bagi kelangsungan organisasi. Pemimpin harus benar-benar mengerti masalah apa yang dihadapi dan keputusan apa yang harus diambil secara cepat dan tepat.
Proses pengambilan keputusan dimulai dari identifikasi masalah : masalah yang dihadapi dalam organisasi harus diidentifikasi atau dianalisis. Sehingga pemimpin atau pengambil keputusan mengerti dan memahami langkah apa yang harus dilakukan setelah itu. Lalu merumuskan masalah yang telah diidentifikasi, agar langkah selanjutnya tidak melenceng dari masalah yang dihadapi. Selanjutnya dibuat keputusan dengan berbagai macam jawaban alternatif, pembuat keputusan harus dapat memilih salah satu jawaban alternatif yang paling tepat yang selanjutnya dilaksanakan dan dievaluasi pelaksanaannya sebagai bahan refleksi.
Oleh karena itu, dalam hal pengambilan keputusan ini pemimpin harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi ke depannya. Karena pengambilan keputusan yang tepat atau tidak tepat menentukan nasib kelangsungan organisasi.



DAFTAR PUSTAKA

   1.  Rochaety, Ety .(2008). SIM Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
  2. Lipman, J.M. dan Rankin, R.E,. (1985). The principalship concepts, competencies, and cases. New York: Longman
  3. Hilda Karli, Pertimbangan dan Strategi Pengambilan Keputusan Kepala Sekolah, Jurnal Pendidikan Penabur - No.21/Tahun ke-12/Desember 2013
  4.   http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf     diakses pada tanggal 10 Mei 2014 Pukul 19.30
  7.  Prof. Dr. Sondang P. Siagian, 1995, Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi-Cet. 13, Jakarta, Toko Gunung Agung

Minggu, 13 April 2014

Kepemimpinan

KEPEMIMPINAN
  Ø  Arti Penting Kepemimpinan

Kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia. Di dalam kata kepemimpinan terdapat kata pemimpin, pemimpin adalah orang yang memiliki keahlian dalam mempengaruhi orang lain dalam suatu usaha bersama untuk mencapai tujuan.  Cara pemimpin dalam mempengaruhi orang lain yang biasa disebut dengan kepemimpinan. Dengan mengembangkan kemampuan dalam mempengaruhi, dapat diperoleh suatu kepemimpinan. Berikut  arti kepemimpinan menurut beberapa ahli, antara lain :
1.      Menurut Sarros dan Butchatsky (1996)
Adalah suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktifitas anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. ³
2.      Menurut George P Terry, Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok.⁽¹⁾
3.      Menurut H.Koontz dan C. O'Donnell, Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum.⁽¹⁾
4.      Menurut R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik, Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan. ⁽¹⁾
Arti penting kepemimpinan merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan dalam organisasi, bahkan dalam melakukan perubahan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, memelihara dan mengembangkan usaha dan iklim yang kooperatif dalam kehidupan organisasional⁽⁸⁾.

  Ø  Tipologi Kepemimpinan

Dalam prakteknya terdapat tipe-tipe kepemimpinan di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997) ⁽6⁾ :

1. Tipe Otokratis.
Ciri dari tipe otokratis : Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2. Tipe Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Tipe Paternalistis.
Ciri seorang dengan tipe paternalistis : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

4. Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers).

5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

       Bila dilihat dari tipe-tipe kepemimpinan di atas, pasti kita mengidamkan pemimpin dengan tipe kepemimpinan yang demokratis. Dengan kepemimpinan demokratis selalu ingin maju dengan jalan yang baik, dalam artian bahwa setiap mengambil langkah maju dipertimbangkan segala aspek yang menyangkut langkah yang diambilnya. Oleh karena itu tipe kepemimpinan inilah yang selalu lebih banyak sukses dan maju dibandingkan tipe kepemimpinan lainnya.

  Ø  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan
Suwatno (2001:161), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan adalah sebagai berikut ⁽⁷⁾:
1.         Faktor genetis
Adalah faktor yang menampilkan pandangan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena latar belakang keturunannya.
2.         Faktor sosial
Faktor ini pada hakikatnya semua orang sama dan bisa menjadi pemimpin. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk menjadi seorang pemimpin, dan tersalur sesuai lingkungannya.
3.         Faktor bakat
Faktor yang berpandangan bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi seorang pemimpin yang baik, apabila orang itu memang dari sejak kecil sudah membawa bakat kepemimpinan.

Faktor-faktor di atas lah yang nantinya akan mempengaruhi gaya kepemimpinan seseorang. Kepemimpinan dapat berasal sejak kecil atau dapat pula dibentuk dari sikap/perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

  Ø  Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi 
Beberapa implikasi manajerial yang dapat diberikan sebagai masukan bagi kemajuan organisasi :
a.  Hal pertama yang harus dipahami bahwa setidaknya pemimpin memahami konsep kepemimpinan sesuai dengan kondisi organisasi dan orang-orang yang berada di bawahnya. Guna memperlancar kegiatan dalam organisasi.
b.  Berdasarkan tipe-tipe kepemimpinan yang ada, sebaiknya pemimpin menyadari bagaimana cara ia memimpin, apakah baik untuk organisasi atau tidak. Hal ini dapat mempengaruhi kemajuan organisasi ke depannya.
c. Yang tidak luput dari kepemimpinan yaitu faktor apa saja yang mempengaruhi kepemimpinan tersebut. Bila faktor tersebut sudah ada sejak kecil atau merupakan bakat, maka kepemimpinan itu terus diasah dan dikembangkan. Atau bila faktor tersebut baru dibentuk pada saat menghadapi kondisi yang mengharuskan memiliki jiwa kepemimpinan, maka bentuklah kepemimpinan tersebut sesuai dengan kondisi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

            1.      http://www.ut.ac.id/html/suplemen/adpu4334/w2_1_1_1.htm      
           diakses tanggal 13/03/2014 pukul 12.55
diakses tanggal 13/04/2014 pukul 13.19
diakses tnggal 13/03/2014 pukul 13.15
4.      Irawaty A. Kahar, 2008, Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi (Organizational Change) pada Perpustakaan Perguruan Tinggi, Junal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4. diakses pada tanggal 13/04/2014 pukul 13.30
5.      George R. Terry, penerjemah : J. Smith D.F.M. , 1990, Prinsip-Prinsip Manajemen, Jakarta, Bumi Aksara
7.      http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=57797  diakses tanggal 13/04/2014 pukul 13.24
8.      Prof. Dr. Sondang P. Siagian, 1995, Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi-Cet. 13, Jakarta, Toko Gunung Agung
9.  Miftah Thoha, 1996, Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya-Cet.6, Jakarta, RajaGrafindo Persada